Minggu, 17 Agustus 2014
no image
5..


Tentang Ramadhan yang Wajib Diketahui

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya.
Ramadhan memiliki kedudukan yang agung di mata kaum muslimin. Hati mereka merasa bahagia dan senang ketika Ramadhan akan datang. Semangat untuk berbuat baik dan melaksanakan ketaatan meningkat. Menggelora semangat dalam jiwanya yang diikuti badannya sehingga merasa ringan melaksakanan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran.
Pastinya, perasaan ini akan dirasakan setiap muslim, selemah apapun imannya. Karena Ramadhan adalah bulan untuk melunakkan hati dan menentramkannya. Masa untuk saling tolong menolong dan bekerjasama dalam berbagai kebaikan dan ketaatan serta melaksanakan kebajikan-kebajikan. Pada bulan itu tergambar persatuan umat dalam beberapa aktifitas, seperti buka puasa bersama yang diadakan di rumah-rumah yang tidak biasa ditemukan di luar Ramadhan. Pemandangan serupa juga dapat ditemukan dalam pelaksanaan shalat Tarawih. Masjid-masjid dipenuhi jamaah saat shalat Shubuh yang tidak biasa ditemukan di luar Ramadhan pada zaman kita sekarang. Semua ini menjadi bukti nyata bahwa Ramadhan memiliki nilai dan kedudukan mulia di hati umat Islam.
Sesungguhnya penghormatan dan perhatian umat Islam terhadap Ramadhan tidaklah sama. Sebagiannya lebih atas yang lainnya sesuai dengan pengetahuan dan ilmu serta semangat mereka dalam menghidupkan bulan mulia ini. Karenanya, pada tulisan ini kami akan suguhkan beberapa perkara yang menerangkan tentang seluk beluk Ramadhan sehingga lebih berkesan di hati kita.
Sesungguhnya penghormatan dan perhatian umat Islam terhadap Ramadhan tidaklah sama.
Sebagiannya lebih atas yang lainnya sesuai dengan pengetahuan dan ilmu serta semangat mereka dalam menghidupkan bulan mulia ini.
Apa itu bulan Ramadhan?
Pertama, bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dari urutan 12 bulan yang di sisi Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, juga sesuai urutan yang telah ditetapkan oleh Umar bin al-Khathab radliyallaahu 'anhu.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS. Al-Taubah: 36)
Kedua, bulan yang Allah pilih untuk menurunkan Al-Qur’an di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ketiga, bulan di mana Allah mulai mengutus Nabi dan utusannya, Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.
Keempat, bulan yang Allah jadikan darinya sampai Ramadhan berikutnya sebagai penghapus dosa di antara keduanya.
Imam Muslim telah membuat satu bab dalam kitab al-Thaharah, “Bab Shalat lima waktu, satu Jum’at ke Jum’at lainnya, satu Ramadhan ke Ramadhan laiannya sebagai penghapus (kesalahan) di antara keduanya, selama dosa besar dijauhi.” Di dalamnya, beliau menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“(Antara) shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan, terdapat penghapus dosa-dosa, selama tidak melanggar dosa-dosa besar." (HR Muslim, no. 233)
Kelima, bulan yang apabila sudah masuk malam pertamanya terdapat banyak kebaikan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab al-Shaum, dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
“Apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibula.” (HR. Bukhari, no. 1898)
Dan dalam satu riwayat lain, masih dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
"Jika telah datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu langit dan ditutuplah pintu-pintu Jahannam, serta dibelenggulah para syaithan." (Muttafaq ‘alaih)
Jika telah datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu langit dan ditutuplah pintu-pintu Jahannam, serta dibelenggulah para syaithan. (al-hadits)
Keenam, Bulan yang Allah jadikan sebagai solusi bagi pelaku pelaku dosa dan kesalahan, juga bagi pemburu surga dan derajat tinggi dalam beragama.
Imam Bukhari dalam kitab Al-Tauhid, dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, dan berpuasa Ramadhan, maka wajib bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik dia berhijrah fi sabilillah atau duduk (tetap tinggal) di bumi kelahirannya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulallah, bolehkah kami memberitahukan hal itu kepada manusia?” Beliau bersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya di dalam surga itu ada 100 derajat (tempat) yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk para mujahid di jalan Allah, antara dua derajat seluas langit dan bumi. Dan apabila kalian memohon kepada Allah maka mohonlah surga Firdaus, karena sungguh dia terletak di surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Allah Yang Maha Pemurah dan dari situlah terpancarnya sungai-sungai di surga.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam riwayat Muslim, Kitab Shalah al-Musafirin, dari Abu Hurairah, Rasulullah pernah bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa Ramadhan didasari iman dan hanya berharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih)
Ketujuh, bulan yang Allah jadikan umrah di dalamnya seperti haji. Bukan itu saja, bahkan seperti haji bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, dari ‘Atha berkata, Aku mendengar Ibnu Abbas radliyallaahu 'anhuma mengabarkan kepada kami, Rasulullah  shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang wanita dari Anshar (Ummu Sinan), “Apa yang menghalangimu untuk berhaji bersama kami? Lalu wanita tadi menyampaikan alasannya karena kendaraannya dipakai jihad fi sabilillah. Kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِي فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ
“Apabila telah datang Ramadhan, berumrahlah. Karena umrah pada bulan Ramadhan (pahalanya seperti) haji.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain, “Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain lagi, “Karena sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan menjadi pengganti (dalam pahala-red) haji atau haji bersamaku.” (Muttafaq ‘alaih)
Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, “Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji” adalah dalam pahala, bukan pelaksanaannya menempati kedudukan haji yang bisa menggugurkan kewajiban haji berdasarkan ijma’ bahwa umrah belum cukup dan tidak bisa menggantikan kewajiban melaksanakan haji.
Ibnu al-Arabi berkata, “Haji tentang umrah ini adalah shahih dan merupakan karunia dan nikmat dari Allah. Dan umrah menyamai haji karena digabungkan dengan Ramadhan.”
Ibnu al-Jauzi berkata, “Di dalamnya, bahwa pahala amal akan bertambah dengan kemuliaan waktunya seperti bertambahnya pahala dengan kehadiran hati dan tujuan yang ikhlas.”
Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji adalah dalam pahala, bukan pelaksanaannya menempati kedudukan haji yang bisa menggugurkan kewajiban haji . .
Kedelapan, Bulan yang di dalamnya Allah adakan satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan dalam urusan dien dan amal hamba yang shalih.
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3)
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitab Shalah al-Tarawih, dari Aisyah berkata, “Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam apabila sudah masuk di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan bersabda,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Dan dalam riwayat Muslim disebutkan pendapat Ubay bin Ka’b tentang keyakinannya bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke 27. Pada saat itu, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk menghidupkannya. Beliau juga menyebutkan tanda-tandanya, yaitu pada pagi harinya langit terlihat putih terang, tidak ada cahaya matahari yang berserakan.
Kesembilan, bulan Ramadhan adalah bulan terbaik baik kaum mukminin dan menjadi bulan terburuk dirasakan kaum munafikin.
Kalau kita perhatikan, maka orang-orang mukmin melaksanakan beberapa amal kebaikan dan menyiapkan zakat hartanya untuk dia infakkan di bulan Ramadhan. Mereka menyiapkan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sekaligus menyiapkan juga untuk membantu fakir miskin. Mereka juga berlomba-lomba memberi santapan berbuka bagi shaimin.
Pada ringkasnya, bahwa bulan Ramadhan menjadi nikmat bagi orang mukmin dan bencana bagi orang fajir dan munafik. Wallahu a’lam.
Read more
no image
4...


Tentang Ramadhan yang Wajib Diketahui

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya.
Ramadhan memiliki kedudukan yang agung di mata kaum muslimin. Hati mereka merasa bahagia dan senang ketika Ramadhan akan datang. Semangat untuk berbuat baik dan melaksanakan ketaatan meningkat. Menggelora semangat dalam jiwanya yang diikuti badannya sehingga merasa ringan melaksakanan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran.
Pastinya, perasaan ini akan dirasakan setiap muslim, selemah apapun imannya. Karena Ramadhan adalah bulan untuk melunakkan hati dan menentramkannya. Masa untuk saling tolong menolong dan bekerjasama dalam berbagai kebaikan dan ketaatan serta melaksanakan kebajikan-kebajikan. Pada bulan itu tergambar persatuan umat dalam beberapa aktifitas, seperti buka puasa bersama yang diadakan di rumah-rumah yang tidak biasa ditemukan di luar Ramadhan. Pemandangan serupa juga dapat ditemukan dalam pelaksanaan shalat Tarawih. Masjid-masjid dipenuhi jamaah saat shalat Shubuh yang tidak biasa ditemukan di luar Ramadhan pada zaman kita sekarang. Semua ini menjadi bukti nyata bahwa Ramadhan memiliki nilai dan kedudukan mulia di hati umat Islam.
Sesungguhnya penghormatan dan perhatian umat Islam terhadap Ramadhan tidaklah sama. Sebagiannya lebih atas yang lainnya sesuai dengan pengetahuan dan ilmu serta semangat mereka dalam menghidupkan bulan mulia ini. Karenanya, pada tulisan ini kami akan suguhkan beberapa perkara yang menerangkan tentang seluk beluk Ramadhan sehingga lebih berkesan di hati kita.
Sesungguhnya penghormatan dan perhatian umat Islam terhadap Ramadhan tidaklah sama.
Sebagiannya lebih atas yang lainnya sesuai dengan pengetahuan dan ilmu serta semangat mereka dalam menghidupkan bulan mulia ini.
Apa itu bulan Ramadhan?
Pertama, bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dari urutan 12 bulan yang di sisi Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, juga sesuai urutan yang telah ditetapkan oleh Umar bin al-Khathab radliyallaahu 'anhu.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS. Al-Taubah: 36)
Kedua, bulan yang Allah pilih untuk menurunkan Al-Qur’an di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ketiga, bulan di mana Allah mulai mengutus Nabi dan utusannya, Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.
Keempat, bulan yang Allah jadikan darinya sampai Ramadhan berikutnya sebagai penghapus dosa di antara keduanya.
Imam Muslim telah membuat satu bab dalam kitab al-Thaharah, “Bab Shalat lima waktu, satu Jum’at ke Jum’at lainnya, satu Ramadhan ke Ramadhan laiannya sebagai penghapus (kesalahan) di antara keduanya, selama dosa besar dijauhi.” Di dalamnya, beliau menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“(Antara) shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan, terdapat penghapus dosa-dosa, selama tidak melanggar dosa-dosa besar." (HR Muslim, no. 233)
Kelima, bulan yang apabila sudah masuk malam pertamanya terdapat banyak kebaikan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab al-Shaum, dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
“Apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibula.” (HR. Bukhari, no. 1898)
Dan dalam satu riwayat lain, masih dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
"Jika telah datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu langit dan ditutuplah pintu-pintu Jahannam, serta dibelenggulah para syaithan." (Muttafaq ‘alaih)
Jika telah datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu langit dan ditutuplah pintu-pintu Jahannam, serta dibelenggulah para syaithan. (al-hadits)
Keenam, Bulan yang Allah jadikan sebagai solusi bagi pelaku pelaku dosa dan kesalahan, juga bagi pemburu surga dan derajat tinggi dalam beragama.
Imam Bukhari dalam kitab Al-Tauhid, dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, dan berpuasa Ramadhan, maka wajib bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik dia berhijrah fi sabilillah atau duduk (tetap tinggal) di bumi kelahirannya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulallah, bolehkah kami memberitahukan hal itu kepada manusia?” Beliau bersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya di dalam surga itu ada 100 derajat (tempat) yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk para mujahid di jalan Allah, antara dua derajat seluas langit dan bumi. Dan apabila kalian memohon kepada Allah maka mohonlah surga Firdaus, karena sungguh dia terletak di surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Allah Yang Maha Pemurah dan dari situlah terpancarnya sungai-sungai di surga.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam riwayat Muslim, Kitab Shalah al-Musafirin, dari Abu Hurairah, Rasulullah pernah bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa Ramadhan didasari iman dan hanya berharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih)
Ketujuh, bulan yang Allah jadikan umrah di dalamnya seperti haji. Bukan itu saja, bahkan seperti haji bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, dari ‘Atha berkata, Aku mendengar Ibnu Abbas radliyallaahu 'anhuma mengabarkan kepada kami, Rasulullah  shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang wanita dari Anshar (Ummu Sinan), “Apa yang menghalangimu untuk berhaji bersama kami? Lalu wanita tadi menyampaikan alasannya karena kendaraannya dipakai jihad fi sabilillah. Kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِي فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ
“Apabila telah datang Ramadhan, berumrahlah. Karena umrah pada bulan Ramadhan (pahalanya seperti) haji.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain, “Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain lagi, “Karena sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan menjadi pengganti (dalam pahala-red) haji atau haji bersamaku.” (Muttafaq ‘alaih)
Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, “Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji” adalah dalam pahala, bukan pelaksanaannya menempati kedudukan haji yang bisa menggugurkan kewajiban haji berdasarkan ijma’ bahwa umrah belum cukup dan tidak bisa menggantikan kewajiban melaksanakan haji.
Ibnu al-Arabi berkata, “Haji tentang umrah ini adalah shahih dan merupakan karunia dan nikmat dari Allah. Dan umrah menyamai haji karena digabungkan dengan Ramadhan.”
Ibnu al-Jauzi berkata, “Di dalamnya, bahwa pahala amal akan bertambah dengan kemuliaan waktunya seperti bertambahnya pahala dengan kehadiran hati dan tujuan yang ikhlas.”
Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji adalah dalam pahala, bukan pelaksanaannya menempati kedudukan haji yang bisa menggugurkan kewajiban haji . .
Kedelapan, Bulan yang di dalamnya Allah adakan satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan dalam urusan dien dan amal hamba yang shalih.
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3)
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitab Shalah al-Tarawih, dari Aisyah berkata, “Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam apabila sudah masuk di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan bersabda,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Dan dalam riwayat Muslim disebutkan pendapat Ubay bin Ka’b tentang keyakinannya bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke 27. Pada saat itu, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk menghidupkannya. Beliau juga menyebutkan tanda-tandanya, yaitu pada pagi harinya langit terlihat putih terang, tidak ada cahaya matahari yang berserakan.
Kesembilan, bulan Ramadhan adalah bulan terbaik baik kaum mukminin dan menjadi bulan terburuk dirasakan kaum munafikin.
Kalau kita perhatikan, maka orang-orang mukmin melaksanakan beberapa amal kebaikan dan menyiapkan zakat hartanya untuk dia infakkan di bulan Ramadhan. Mereka menyiapkan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sekaligus menyiapkan juga untuk membantu fakir miskin. Mereka juga berlomba-lomba memberi santapan berbuka bagi shaimin.
Pada ringkasnya, bahwa bulan Ramadhan menjadi nikmat bagi orang mukmin dan bencana bagi orang fajir dan munafik. Wallahu a’lam.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/08/10/9059/tentang-ramadhan-yang-wajib-diketahui/#sthash.lEXQ1ey2.dpuf
Read more
no image
3..


DO'A JIBRIL tentang RAMADHAN, ORANG TUA dan SHALAWAT (DIAMINKAN oleh RASULULLAH SAW)



Sahabat Hikmah...
Saya mendapat kiriman pesan yang berisi doa Malaikat Jibril :

Do’a Malaikat Jibril Menjelang Ramadhan: Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)
* Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri
* Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya

Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.

Melihat matan (isi) hadits tersebut, hadits ini mengandung perintah untuk saling bermaafan sebelummemasuki Romadhon. Bahkan isi do’a itu adalah agar Allah mengabaikan puasa kita di bulan Romadhon jika tidak mengerjakan apa yang disitir hadits itu.

Setelah diteliti oleh ahli hadits, do'a Malaikat Jibril tersebut tidak ada asalnya, bahkan di kumpulan hadits palsu atau dlo'if pun tidak ada.

Hadits-hadits yang ada adalah:

Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata :
"Amin..amin. .amin..".

Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau :
"Wahai Rasulullah, saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)"

Kemudian Rasulullah memberikan keterangan sbb:
"Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : "Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa) , kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin" 

Kemudian aku meng aminkannya.

"Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan :Amin"

"Dan barang siapa yang dimana namaku disebutkan (didepannya) , kemudian dia tak memberikan shalawat kepadaku, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka katakanlah (wahai Muhammad SAW) (amin), maka aku katakan "Amin" (H.R Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya 3:188).



Hadits-hadits yang serupa adalah:

Hadits Pertama

عن جابر بن سمرة أتاني جبريل فقال : يا محمد ! من أدرك أحد والديه فمات فدخل النار فأبعده الله قل : آمين فقلت : آمين قال : يا محمد من أدرك شهر رمضان فمات فلم يغفر له فأدخل النار فأبعده الله قل : آمين فقلت : آمين قال : و من ذكرت عنده فلم يصل عليك فمات فدخل النار فأبعده الله قل : آمين فقلت : آمين

Dari Jabir bin Samuroh rodhiyallahu’anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Aku menjumpai Jibril, kemudian di berkata wahai Muhammad!, barangsiapa yang menjumpai salah seorang dari kedua orang tuanya kemudian ia meninggal, keudian ia dimasukkan ke neraka, Semoga Allah melaknatnya.” Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amin”. Jibril berkata,”Wahai Muhammad!, barangsiapa yang menjumpai bulan Romadhon kemudian ia meninggal, hal itu tidak menyebabkan ia diampuni dan ia dimasukkan neraka, Semoga Allah melaknatnya.” Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amin”.Jibril berkata,”Wahai Muhammad!, barangsiapa yang engkau disebutkan padanya ia tidak bersholawat kemudian meninggal dan dimasukkan ke neraka, semoga Allah melaknatnya.” Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amin”.

(Al Jami’ush Shoghir wa Ziyadatuhu 75 (1/8), Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani mengatakan, Shohih)

Hadits Kedua

عن أبي هريرة : أن النبي صلى الله عليه و سلم رقى المنبر فقال آمين آمين آمين قيل له يا رسول الله ما كنت تصنع هذا فقال قال لي جبريل رغم أنف عبد أدرك أبويه أو أحدهما لم يدخله الجنة قلت آمين ثم قال رغم أنف عبد دخل عليه رمضان لم يغفر له فقلت آمين ثم قال رغم أنف امرئ ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت آمين

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu’anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menaiki mimbar kemudian bersabda: “Amin, Amin, Amin”. Kemudian dikatakan kepada beliau, “Wahai Rosulullah, Apa (maksud) yang kami dengar ini?. Kemudian beliau bersabda: “Jibril telah mengatakan kepadaku, “Hinalah seorang hamba yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya (masih hdup) namun hal itu tidak membuatnya masuk surga”. Aku berkata, “Amin”. Kemudian Jibril berkata, “Hinalah seorang hamba yang ia telah memasuki bulan Romadhon namun tidak membuat (dosanya) diampuni, kemudian aku berkata, “Amin”. Kemudian Jibril berkata, “Hinalah seseorang yang (namamu) disebutkan padanya namun ia tidak mengucapkan sholawat, kemudian aku berkata, “Amin”

(Al ‘Adabul Mufrod 646 (1/225),Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani mengatakan, Hasan Shohih)

Hadits Ketiga

عن جابر بن عبد الله : أن النبي صلى الله عليه و سلم رقى المنبر فلما رقى الدرجة الأولى قال آمين ثم رقى الثانية فقال آمين ثم رقى الثالثة فقال آمين فقالوا يا رسول الله سمعناك تقول آمين ثلاث مرات قال لما رقيت الدرجة الأولى جاءني جبريل صلى الله عليه و سلم فقال شقي عبد أدرك رمضان فانسلخ منه ولم يغفر له فقلت آمين ثم قال شقي عبد أدرك والديه أو أحدهما فلم يدخلاه الجنة فقلت آمين ثم قال شقي عبد ذكرت عنده ولم يصل عليك فقلت آمين

Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu’anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menaiki tangga mimbar. Ketika naik ketingkatan pertama, Beliau mengatakan “Amin”. Kemudian ketika manaiki tingkatan kedua, Beliau mengatakan “Amin”. Kemudian ketika menaiki tingkatan ketiga, Beliau mengatakan “Amin”. Kemudian para shahabat Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rosulullah, kami mendengar anda mengatakan amin sebanyak tiga kali”.Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ketika aku menaiki tingkatan tangga pertama, (malaikat) Jibril shalallahu’alaihi wa sallam mendatangiku kemudian berkata, “Celaka seorang hamba yang ia menjumpai bulan Romadhon kemudian Romadhon itu berlalu, dan hal itu tidak membuatnya diampuni”. Kemudian aku mengatakan “Amin”. Kemudian Jibril berkata, “Celaka seorang hamba yang ia mendapati kedua orang tuanya atau salah seorang dari mereka (masih hidup) tapi hal itu tidak memasukkannya kedalam surga”. Kemudian aku mengatakan “Amin”. Kemudian Jibril berkata, “Celaka seorang hamba yang ketika(ia mendengar) aku disebut namun ia tidak bersholawat”. Kemudian aku mengatakan “Amin”.

(al ‘Adabul Mufrod 644 (1/224)Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani mengatakan, Shohih li Ghoirihi)

Hadits lain yang memiliki lafazh serupa:

Hadits riwayat ‘Amar bin Yasir rodhiyallahu’anhu, dengan lafadz pada hadits Abu hurairah rodhiyallahu’anhu (lihat Musnad al Bazzar 1256 (4/268)).

Hadits riwayat Ka’ab bin ‘Ujzah rodhiyallahu’anhu, dengan status hadits: Shohih menurut al Hakim, dan disepakati adz Dzahabi. (lihat Al Mustadrok ‘Ala Shohihain 7256 (4/170)), Shohih dengan penguatnya menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.

Hadits riwayat Ibnu Abbas rodhiyallahu’anhu (lihat Mu’jamul Kabir 11115 (11/82)) dengan status hadits: Dho’if jiddan menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.

Hadits riwayat Malik bin Al Huwairits rodhiyallahu’anhu (lihat Mu’jamul Kabir 649 (19/291)) dengan status hadits: Shohih li Ghoirihi menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.

Hadits riwayat Anas bin Malik rodhiyallahu’anhu (lihat Mu’jam Ibnu ‘Asakir 1362 (2/143)) dengan status hadits: Shohih dengan penguatnya menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.

Sahabat Hhikmah...
Memang benar, memnta maaf adalah suatu keharusan, baik kepada orang tua, suami/isteri atau kepada orang di sekitar kita. Tetapi bila sudah membuat berita bahwa Malaikat JIbril berdoa, yang disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad shalallaahu 'alaihi wa sallam, dan ternyata Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad shalallaahu 'alaihi wa sallam tidak melakukannya, bukankah ini sudah berdusta atas nama Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad shalallahu 'alihi wa sallam?
Oleh karena itu kita harus selalu melihat sumbernya, jangan sampai kita berdusta atas nama Rasulullah, atau membantu orang-orang yang memalsukan hadits, karena ancamannya adalah NERAKA.

Seperti yang disebutkan dalam hadits:

……….. “Man kadzaba a’laiya muta’ammidan falyatabawwa maq’adahu minannaar”.

Artinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah SAW “Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”.
(Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll)

Artinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang membuat-buat perkataan atas (nama)ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.
(Hadits shahih dikeluarkan oleh Ibnu Majah (No. 34) dan Imam Ahmad bin Hambal (2/321))

Artinya : Dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.
(Hadits shahih riwayat Imam Bukhari (1/35) dll, hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (4/47) dengan lafadz yang sama dengan hadits No. 1,4,5,6 & 8)


Na'udzubillahi min dzaalik. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada kita semua dan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan masuk ke dalam neraka. Amin

Dan ADMIN mohon maaf dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta'ala apabila selama ini
banyak kekhilafan dan kesalahan
Read more
no image
2...


KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya sabar,” (HR. Imam At-Tirmidzy) dilanjutkan dengan sabda lainnya yang menegaskan, “Sabar itu setengahnya iman,” (HR. Imam Al-Khathib dan Imam Abi Nu’aim); Berarti sesungguhnya hasil gabungan dua hadits di atas adalah “Puasa itu seperempatnya iman.”
Selain sabagai mozaik iman yang berbobot, pahala puasa itu langsung dibalas oleh Allah, sehingga balasan rukun Islam yang satu ini tidak ada yang tahu selain-Nya, disaat setiap ibadah kebajikan biasa bisa Allah lipat gandakan pahalanya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat.
Bagaimana dengan pahala puasa? Sekali lagi, pahala puasa benar-benar melintas di luar batas prediksi hitungan hisab ibadah biasa, sebab, “puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang kelak membalasnya,” ujar hadits Qudsi muttafaq ‘alaih riwayat Sahabat Abu Hurairah (w. 59 H/602-679 M).
Dan karena puasa mampu melejetikan setengah potensi rasa kesabaran dalam diri kita, Allah pun telah berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10)
إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan Allah senantiasa bersama mereka yang selalu besabar.”(QS: Al-Baqarah ayat 153 dan Al-Anfal ayat 47).
Tanda Puasa
Cukuplah untuk mengetahui keutamaan puasa ketika Nabi sampai sudi bersumpah bahwa aroma mulut seorang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ketimbang harumnya misik, dan bahkan Allah telah memberikan fasilitas khusus bagi mereka yang rajin berpuasa; kelak mereka masuk surga dan bersua dengan-Nya via pintu yang tak bisa dilintasi oleh selain mereka, pintu spesial ini bernama “Ar-Rayyan.”
Tidak heran, Rasul pun pernah mewartakan kepada para Sahabatnya bahwa hanya bagi orang berpuasalah diperoleh dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka puasanya, dan kebahagiaan disaat bertemu Tuhannya.
Ketiga hadits tentang aroma mulut berpuasa, pintu spesial “Ar-Rayyan”, dan dua kebahagiaan orang berpuasa ini semuanya hadits-hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka amalkan.” (QS. As- Sajdah [32]: 17).
Ada yang manafsiri bahwa yang mereka amalkan adalah puasa. Dan memang layak pahala puasa sedemikian benafitnya, sebab puasa -sebagaimana yang telah disinggung diatas- langsung disalurkan ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya.
Di sini layak juga dipertanyakan, apa yang membedakan ibadah puasa dengan yang lainnya, padahal semua ibadah lainnya pun akan dikembalikan ke Allah Subhanahu Wata’ala?
Pertama, Al-Ghazali menjawab puasa itu sama halnya dengan masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah -milik- Allah” (Baitullah), padahal toh semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula.
Kedua, ada dua faktor nalar bermakna yang hanya dimiliki ibadah puasa;
a. Bahwa puasa itu sebuah sikap ketahanan diri dan pengabaian, di dalamnya ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Itu karena, sekali lagi, puasa merupakan amal ibadah batin dengan memfungsikan kesabaran yang menjernihkan.
b. Bahwa puasa itu pengekang musuh Allah, sebab jalur Setan (menggoda manusia) hanya melalui syahwat. Sedang syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan-minum. Oleh karena itu, Baginda Muhammad Saw pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Setan berjalan melalui aliran darah Ibn Adam, maka persempitlah kalian jalur-jalurnya dengan lapar!” (HR. Muttafaq ‘alaih) Masih mengenai puasa yang melemahkan syahwat dengan rasa lapar, suatu hari Rasulullah Saw berpetuah kepada Siti ‘Aisyah (w. 58 H/613-678 M), “Kebiasaanku telah mengetuk pintu surga.” Istri tercinta pun bertanya, “Dengan apa, wahai Baginda Rasul?” “Dengan lapar,” jawab sang rasul.
Jadi, ketika puasa khususnya mampu mengekang Setan, menyumbat jalur-jalurnya, dan mempersempit lintasan-lintasannya, maka sunggah pantaslah ibadah ini Allah spesialkan dengan menasbihkan puasa hanya untuk dan milik-Nya. Sebab hanya dengan mengekang musuh-Nya, pembelaan terhadap (agama) Allah terwujud, dan hamba yang membela (agama) Allah pasti akan ditolong-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S Muhammad: 7).
Jadi, permulaan itu dengan kesungguhan perjuangan dari diri seorang hamba, dan pasti akan dibalas dengan sebuah petunjuk (hidayah) dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang berjuang demi (mencari keridhaan) Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabut : 69).
Allah Subhanahu Wata’ala  juga pernah menegaskan;
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d:11)
Sedangkan perubahan (ke arah lebih buruk) hanya bisa terjadi dengan memperbanyak syahwat, di sinilah ladang ketenteraman para setan dan tempat mereka berjaga. Selagi ladang syahwat ini makin subur, maka godaan mereka takkan pernah terhenti. Dan selagi mereka selalu menggoda, maka keagungan Allah Subhanahu Wata’ala takkan pernah tersibak di pelupuk mata hati seorang hamba, ia terhijab dari menemui-Nya.
Rasulullah Subhanahu Wata’ala pernah menyayangkan hal ini dengan bersabda, “Andai saja para setan itu tak mampu mengitari hati manusia, niscaya manusia pasti bisa mengamati kerajaan langit.” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal)
Maka dari semua uraian diatas, tampaklah dengan jelas bahwa puasa merupakan pintunya ibadah menuju taman keimanan yang hakiki, sekaligus merupakan perisai seorang beriman agar senantiasa bertakwa kepada Tuhannya dan mampu mengekang kekuatan syahwat hingga Setan pun tak lagi mampu mengitari hati kita yang berpuasa. Dan diatas semuanya, hanya Allah semata yang tahu seberapa besar agungnya pahala berpuasa.
Semoga kita bisa memuasakan batin kita, selain juga jasmaninya! Wallahu a’lam.*
Penulis tengah studi di Islamic International University of Malaysia, aktif di ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia). Tulisan disadur secara bebas dari Prolog Kitab Asrarush Shaum, Ihya` ‘Ulumiddin karya Hujjatil Islam wal Muslimin, Al Imam Muhammad bin Muhammad, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)                
 
Read more
no image
1..


Sejarah Nama Bulan Ramadhan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Sejak dahulu, sebelum datangnya islam, bangsa arab telah menggunakan tahun qomariyah. Hanya saja tidak semua masyarakat jahiliyah di seluruh penjuru jazirah arab sepakat dalam menentukan kalender tertentu. Sehingga penanggalan mereka berbeda-beda. Meskipun demikian, mereka mengenal kalender qamariyah, dan mereka gunakan konsep ini untuk membuat penanggalan bagi suku mereka masing-masing.
Kalender qamariyah yang mereka kenal sejak zaman dahulu sama dengan kalender qamariyah yang berlaku saat ini. Dalam satu tahun ada dua belas bulan, dan awal bulan ditentukan berdasarkan terbitnya hilal (bulan sabit pertama). Mereka menetapkan bulan Muharram sebagai awal tahun. Mereka juga menetapkan empat bulan haram (bulan suci). Mereka menghormati bulan-bulan haram ini. Mereka jadikan empat bulan haram sebaga masa dilarangnya berperang antar-suku dan golongan.
Kemudian, sebagian informasi menyebutkan, ada lima bulan – Rabi’ul awal – akhir, Jumadil awal – akhir, dan Ramadhan – yang namanya ditetapkan berdasarkan keadaan musim yang terjadi di bulan tersebut.
-  Rabi’ul awal dan akhir diambil dari kata rabi’ [arab: ربيع] yang artinya semi. Karena ketika penamaan bulan Rabi’ bertepatan dengan musim semi.
-  Jumadil Ula dan Akhirah, diambil dari kata: jamad [arab: جماد], yang artinya beku. Karena pada saat penamaan bulan ini bertepatan dengan musim dingin, dimana air membeku.
-  Sedangkan Ramadhan diambil dari kata Ramdha’ [arab: رمضاء], yang artinya sangat panas. Karena penamaan bulan ini bertepatan dengan musim panas.
(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=27755)
Asal Penamaan Ramadhan
An-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan ramadhan,
Pertama, diambil dari kata ar-Ramd [arab: الرمض] yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik. Pendapat ini disampaikan oleh al-Ashma’i – ulama ahli bahasa dan syair arab – (w. 216 H), dari Abu Amr.
Kedua, diambil dari kata ar-Ramidh [arab: الرميض], yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan  pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena membersihakn badan dari berbagai dosa. Ini merupakan pendapat al-Kholil bin Ahmad al-Farahidi – ulama tabiin ahli bahasa, peletak ilmu arudh – (w. 170 H).
Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, [رمضت النصل] yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan ramadhan, karena masyarakat arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan syawal, sebelum masuknya bulan haram. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Azhari – ulama ahli bahasa, penulis Tahdzib al-Lughah – (w. 370 H).
Kemudian an-Nawawi menyebutkan keterangan al-Wahidi,
قال الواحدي: فعلى قول الأزهري: الاسم جاهلي، وعلى القولين الأولين يكون الاسم إسلاميًا
Al-Wahidi mengatakan, berdasarkan keterangan al-Azhari, berarti ramadhan adalah nama yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah.Sementara berdasarkan dua pertama, berarti nama ramadhan adalah nama islami.
(Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 3/126).
Demikian,
Allahu a’lam.
Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Read more
 pertama klik next








kedua klik accept lalu klik next
ketiga masukan serial number auto cad lalu klik next


ke empat isi dulu organize nya lalu klik next:

langkah ke 5 klik browse dlu tempat auto cad nya lalu klik next



langkah 6 klik next lalu tunggu sampai finish

langkah 7 tunggu sampai finish

finish


Read more
Pertama tama anda harus mendownload Packet Tracer 6.0.1, setelah anda download file Packet Tracer 6.0.1, Lalu klik untuk melakukan instalasi dan akan muncul jendela seperti di bawah ini, langsung klik Next >




Pada License Agreement, baca dahulu EULA nya setelah itu pilih "I accept the agreement" untuk menyetujui instalasi Packet Tracer, setelah itu klik Next >




Selanjutnya adalah memilih lokasi folder untuk Instalasi, secara default akan terinstal di Program Files




Tentukan nama folder untuk Start menu




Checklist "Create a desktop icon" untuk membuat shortcut di desktop agar mempermudah menjalankan program




Setelah itu klik Install untuk memulai proses instalasi hingga selesai



Setelah instalasi selesai, klik Finish

Klik icon Packet Tracer pada desktop anda, Setelah itu jendela Packet Tracer akan muncul seperti gambar di bawah ini



Sekarang anda sudah dapat mempelajari tentang simulasi pembuatan jaringan menggunakan CISCO Packet Tracer 6.0.1 . Selamat Mencoba !
Read more
Diberdayakan oleh Blogger.